Friday 24 April 2009

Bacaan yang “Indah” di Masa-masa “Indah” Itu (Juz 1)

by: Asfa Widiyanto

Membaca tulisan yang banyak beredar di dunia si maya tentang syura yang dilawan-lawankan dengan demokrasi, mengingatkan saya pada buku berjudul “Syura dan Demokrasi” (terjemahan dari karya berbahasa Arab "al-Shura la al-Dimukratiyya") yang sempat menarik perhatian saya saat masa-masa indah di kelas 3 SMP dulu. Buku (yang saya beli dengan menyisihkan uang jajan) itu sempat mengaduk-aduk perasaan saya, memunculkan rasa tidak puas yang relatif berlebihan pada pemerintah. Sempat terlintas di pikiran saya kala itu (terutama setelah membaca buku tentang Syura tadi, yang sayangnya buku saya tadi sudah tidak jelas rimbanya, padahal sampai dibela-belain tidak jajan beberapa hari-:)), bahwa sistem yang ada sekarang adalah sistem kufur, karena itu harus “dihancurkan” dan sebagainya.

Kala SMP itu, yang sering mampir, berkelebatan dan dibaca mata saya adalah buku-buku dan majalah-majalah yang disajikan dengan gaya bahasa yang khas, mudah dipahami, mudah dikunyah. “Bacaan ini membangkitkan ghirah islamiyyah” begitu kata sementara teman saya, kala itu. Kata sementara orang, dari satu sisi, yang disentuh dan dibidik oleh bacaan-bacaan seperti ini adalah “sentimen keberagamaan” atawa “emosi keberagamaan”, belum pada “kedewasaan dan kematangan beragama” alih-alih pada “ranah spiritualitas”. Harus digaris bawahi bahwa pernyataan sementara orang ini, juga belum tentu benar, karena terluncurkan dari manusia, makhluk yang “terbatas” itu.

Masa-masa indah itu kemudian dilanjutkan ketika masuk ke bangku SMA. Di sekolah ini (yang juga tak kalah indahnya) saya mulai dipertemukan, diperkenalkan, dihadapkan dan “diaduk-aduk” oleh warna bacaan lain yang relatif beragam, yang kadang relatif tidak mudah dikunyah, bahkan kadang saya perlu mengernyitkan dahi. Bacaan seperti ini kemudian pada gilirannya sempat memancing “intellectual curiosity” saya antara lain tentang apa sebenarnya kebenaran, apa itu keberagamaan, dan apa sebenarnya sisi positif dari keberagamaan, atau dengan kata lain manfaat keberagamaan bagi kemaslahatan manusia dan sebangsanya.

To be continued…(sabar ya, jangan ditarik-tarik kesimpulan dulu, anggap aja iklan numpang lewat-:)))

Saturday 18 April 2009

Pengandaian di "Alam Ghaib" Itu….

by: Asfa Widiyanto

Alkisah, terjadilah percakapan “virtual” nan „ghaib“ dan "imajiner" antara dua anak manusia, di pojok dunia antah berantah (ini adalah percakapan „virtual“ lagi „ghaib“ dan "imajiner". Bisa jadi pernah terjadi di dunia si maya, atawa semata pengandaian, atawa terjadi secara ghaib di dunia mimpi (karena kata para filsuf dan mistikus, kita bisa juga berkomunikasi dengan orang lain via mimpi)).

A: Jika pada satu titik waktu tertentu, semua laki-laki di muka bumi ini sudah menemukan jodohnya. Yang tersisa adalah orang yang kau benci sampai ke ubun-ubun itu (yang menurut penilaianmu, dia itu berpenampilan jadul lah, tidak gaul lah, tidak macho lah, tidak gentle lah, tidak empatik, tidak kreatif lah, tidak humoris lah, mbosenin lah dan seabrek "lah-lah" lainnya). Apa dirimu masih tidak mau juga untuk nikah dengan dia?
B: (sambil bersungut-sungut) kamu doakan yang jelek padaku ya. Tega nian.
A: sabar. Itu hanya pengandaian (bukan „andai-andai lumut“).
B: (menjawab secara reaktif, mungkin karena terlalu sering mengkonsumsi mie instant dan bacaan instant) mengandaikan itu kerjaannya setan! Itu kesesatan berpikir! (sebenarnya si A agak terharu juga melihat si B yang reaktif, dikit-dikit kerjaannya setan, bisikan setan. setan senantiasa dijadikan kambing hitam, tanpa mau berusaha introspeksi diri. si A berdoa semoga semuanya, tanpa kecuali, tertuntun ke arah kebaikan).

A: (hanya tertawa) kek kek kek. Secara logika, kita boleh mengandaikan.
B: Kalau gitu, saya mau nikah dengan pria beristeri yang isterinya mau meninggal (sssst...dia dah lupa dengan klaim heroik dan meletup-letupnya tadi bahwa "mengandaikan adalah kerjaannya setan").
A: (tertawa lagi) kek kek kek (belum nemu cara ketawa lain yang lebih bagus, makanya cuma kek kek kek, mungkin kebanyakan makan tokek. di sini dia batasi cuma tiga kali tertawanya, walau sebenarnya masih pingin tertawa, tapi ditahan aja, karena teringat pada petuah sahabat tercinta yang selalu ia dengarkan dengan penuh empatik, "alle gute dinge sind drei". Sengaja dia tidak tertawa pakai formula "ha ha ha" karena malu kalau ditertawain kucing karena terkesan standar banget, kurang kreatif. Dia juga merasa bahwa tertawa pakai formula "kuk kuk kuk" kedengaran kurang bagus dan kurang macho. Mau tertawa "kak kak kak" nanti dikira "blekok"atawa ayam mau kawin. "Kok kok kok", takut dikira ayam mau bertelur. "Kik kik kik", malu dikira tikus kena asma. capek deh. yang baca aja capek, apalagi yang nulis).
B: (dengan sewot) mengapa kamu cuma tertawa? ada apa gerangan?

A: Dari satu sisi kamu egois, dan ada terbersit di benakmu harapan yang kurang baik akan orang lain.
B: (menjawab dengan ketus) EGP.
A: Lalu mau dikemanakan bujangan yang bernasib kurang mujur tadi?
B: (dengan ketus) bukan urusan saya, mau ke laut kek, mau nyebur ke sungai kek, mau ke mana kek. Ngapain saya pikirin.
A: Dari satu sisi, kamu kurang adil. Kamu sudah mengambil pilihan yang kurang empatik.
B: (dengan sok tahu) EGP. Oya saya ada ide (dengan wajah berbinar-binar. kalau di film kartun atawa di komik mungkin muncul tanda tuing-tuing atau gambar lampu bolam), suruh aja bujangan itu untuk minta orang yang beristri lebih dari satu agar mau memberikan salah satu isterinya.

A: Kamu sudah ada sedikit kemajuan. Tapi coba dipikirkan. Jarang sekali orang yang mau menghibahkan isterinya pada orang lain. Dalam sejarah, adalah kaum Anshar yang sampai rela menghibahkan salah satu istri mereka untuk kaum Muhajirin. Tapi ada baiknya juga, kamu dah berpikir positif pada orang lain, bahwa ada yang sangat ikhlas seperti halnya para sahabat Nabi tersebut. Itu salah satu yang bisa dijadikan alternatif. Tapi ada juga alternatif lain.
B: (dengan menggeser tempat duduknya, karena ngebet ingin tahu, seperti halnya wartawan infotainment yang ngebet dapat berita heboh) apa itu?
A: Kita doakan saja semoga muncul pasangan hidup untukmu dan semoga juga bujangan tersebut dikaruniai jodoh. Kita harus sadar bahwa Tuhan itu mengatasi logika, tidak tunduk pada hukum logika (beyond the logic). Selalu saja, ada pengecualian dan keajaiban. Lagian itu cuma pengandaian, ngapain kamu pikirin terlalu serius sampai bersungut-sungut tadi, padahal kamu bukan jangkrik (makhluk yang juga dirahmati Allah itu). Pengandaian itu „ada“ dalam angan-angan, namun tidak mesti „ada“ dalam kenyataan.
B: Apa maksudnya "ada" dalam angan-angan?

A: Sabar coy! nanti inshaallah saya terangkan dalam kesempatan lain. kamu masih terkesan terlalu gegabah dan terburu-buru dalam memahami dan memaknai realitas. (Dalam dunia sufi, dikisahkan ada seorang murid yang disarankan gurunya untuk menjadi pengemis lagi tiga tahun, karena dilihatnya sang murid ini masih tinggi egonya, sok tahu, dan di dalam hatinya masih terbersit rasa bahwa "saya lebih saleh dan lebih bersih dari makhluk lain". Namun karena cerita ini tidak terjadi di dunia tasawuf, dan hubungan dua anak manusia tadi bukanlah relasi guru-murid, maka dengan menyesal sedalam-dalamnya ceritanya di buat seperti ini saja. Harap diketahui bahwa si B tidak bayar SPP, dan si B juga tidak baiat pada si A, maka si B bukanlah murid si A).

(Sekedar bocoran cerita mendatang, si B ini akhirnya secara tak terduga menyatakan siap menikah dengan bujangan tadi (ini agak buram dan diburamkan, karena pengaruh bacaan instant, atawa karena ketulusan hati, atawa si B dah melakukan perenungan lain di luar jalur yang lazim, cuma si B dan penulis sendiri yang paham. pembaca mohon jangan protes, kalau ada yang dirahasiakan (mau tahu aja ini pembaca, layaknya wartawan infotainment -)). Selang beberapa waktu, mereka berdua pun menikah. Mungkin karena ketulusan hati si B, akhirnya si "mantan bujangan kurang beruntung" itu pun berubah seperti yang diidamkan semula oleh si B. Padahal si B sudah lupa akan kriteria suami idamannya. Begitu juga si "mantan bujangan kurang beruntung" itu pun menerima si B dengan tulus, sehingga lambat laun si B berubah menjadi wanita yang diidamkannya. Sekedar catatan, bahwa si "mantan bujangan" ini sekalipun dulu mendapat hadiah segudang atribut jelek, namun tetap bermimpi mendapat isteri yang nyaris sempurna. Ini mungkin karena kurang sering ngaca, terlalu pede, atawa terlalu optimis akan anugerah Tuhan yang tak terduga. Melihat happy ending pasangan ini, si A pun tak kuasa menahan rasa harunya hingga menitikkan air matanya).

("Ceritanya tidak seru!" "Penulisnya tidak kreatif!" "Ending-nya niru cerita joko kendil!", begitu protes sebagian pembaca. Melihat penulisnya diprotes para pembaca, si A, si B dan "mantan bujangan" pun tertawa kek kek kek (tertawanya seragam karena dipandu oleh si A). "Syukurin, emang enak dikerjain. Tadi kamu ngerjain kita kita", begitu ujar mereka).

Sunday 12 April 2009

Bacaan Instant Nan "Gurih", "Legit" dan "Renyah" Itu…

by: Asfa Widiyanto

Seorang tukang pijat "berfatwa"(yang perlu diklarifikasi kebenarannya, maklum dia asal ngomong, "asal njeplak"): "Dalam beberapa hal, bacaan instant tidak beda dengan mie instant. Memberi efek kenyang (dan relatif mudah didapatkan dan “dikunyah” (antara lain tidak perlu sampai "mengernyitkan dahi")) namun jika terlalu sering dikonsumsi akan berakibat kurang baik buat kesehatan." Pernyataan itu spontan meluncur dari mulutnya ketika dia membaca tulisan di detik berjudul "Wikipedia bikin pelajar tidak siap masuk universitas" (tulisan detik itu nanti bisa dilihat di sini).

Dari ungkapan "asal njeplak" tukang pijat tersebut, tetangganya (mantan dukun santet bin copet bin tukang palak yang sudah tobat dan sekarang memulai jalan baru dengan jual beli besi tua, dan tahun depan berencana untuk melamar jadi guru, untuk mewujudkan niat sucinya untuk turut mencerdaskan kehidupan bangsa dan menular-nularkan ilmunya, tentunya tidak termasuk ilmu santet, copet dan palak, dan lima tahun lagi berencana mendaftarkan diri sebagai caleg untuk memperbaiki nasib bangsa, tentunya tidak dengan mencopet, menyantet dan memalak ketika menjabat sebagai anggota legislatif) berusaha meraba-raba (dengan intuisi yang nyaris menyamai tukang pijat tadi) relevansi bacaan instant tadi.

Mantan dukun santet bin copet bin tukang palak itu berujar bahwa bacaan instant dalam beberapa hal "memanjakan" dan "meninabobokkan". Ini dia katakan, "dalam beberapa hal" karena menyadari bahwa premis ini bisa jadi tidak sepenuhnya benar, dan ada sisi lain dari bacaan instant yang tidak terbidik oleh premis ini. Mantan dukun santet dan copet ini pun melanjutkan analisisnya, "Bacaan instant itu, dalam beberapa kasus, mengesankan realitas seakan tanpa riak dan gelombang. Walau sebenarnya, dalam taraf tertentu, riak itu kadang diperlukan untuk capai keseimbangan (equilibrium) baru yang, dari satu sisi, relatif lebih baik, terutama bagi yang siap."

"Bacaan ini seakan memberikan "garis pembatas" pada perenang agar tidak masuk ke bagian yang lebih dalam. Pembatasan ini berguna sekali untuk keselamatan perenang. Tapi ada baiknya perenang ini, diberi tahu, bahwa ada sisi lain dari samudera nan luas (baik spot yang agak di tengah atau sisi pantai lain), yang belum terjamah oleh perenang tadi, yang bisa jadi tampilan dan substansinya berbeda dengan spot yang "diublek-ublek" perenang tadi. Dari itu, perenang tersebut diharapkan memiliki toleransi dan wawasan yang relatif luas, walau secara praktis dia belum pernah berenang melewati "garis pembatas" tadi."

"Menyajikan sejarah, baik sejarah secara umum atawa suatu kelompok sosial tertentu, secara (dari satu sisi bisa dikatakan) relatif utopis dan tanpa cacat, dari satu sisi bagus untuk pembentukan karakter tertentu. Namun ini ada sisi negatifnya juga, jika ini cuma dipercaya sebagai satu-satunya model dan genre sejarah yang sahih, maka pembaca yang terbiasa dengan model bacaan ini, akan cenderung reaktif (misalnya dengan terburu-buru mengucapkan "tidak benar itu", "salah itu, "sesat itu" dan ungkapan senada lainnya) terhadap pembaca lain yang menampilkan warna bacaan yang berbeda."

Di akhir tulisan ini penulis mengajak pembaca dan penulis sendiri untuk merenungi statemen seorang tukang becak (yang bisa jadi ada benarnya, tapi bisa juga ada salahnya, namanya juga manusia):
“Menyadari keterbatasan dan titik batas kita itu bukanlah kelemahan, malah justru titik kekuatan, untuk bergerak secara lebih dinamis. Adalah makhluk yang arif jika menyadari "keterbatasan" itu, seraya mengoptimalkan apa yang dianugerahkan Tuhan, untuk memahami realitas secara relatif lebih luas."

Blog ini juga masuk kategori bacaan instant tadi. So hati-hati aja, hehe--)) (jangan sampai anggap yang disampaikan di blog ini paling benar). Selamat merenung! Karena kata tukang sayur, "merenung itu bagus (daripada mikirin togel dan ramalan mama laurent) demi masa depan yang lebih bermakna".

Ada Apa dengan Makhluk “Bertampang Sangar” yang Dirahmati Allah Itu

by: Asfa Widiyanto

Salah satu nasehat yang sampai saat ini, bagi penulis sendiri, masih merasa terlalu abstrak adalah tentang sikap kita ketika berpapasan dengan anjing. Dijelaskan bahwa tingkat kesiapan jiwa kita juga antara lain tercermin ketika kita bertemu dan “disapa” anjing, terutama “anjing galak” (penjelasan dan korelasi ini, dari satu sisi, kurang bisa diterapkan pada pawang anjing dan orang yang terbiasa berinteraksi dan berkomunikasi dengan anjing).

Tipe pertama, orang yang takut pada anjing. Jika dia ini ketemu anjing langsung grogi. Kalau anjing ini menyalak, dia takut, lari terbirit-birit, sampai napasnya tersengal-sengal (seakan kehabisan napas), bermandikan keringat (bahkan ada yang sampai ngompol) dan tidak bisa berpikir dengan sehat. Yang terlintas di benaknya hanyalah kenyataan bahwa anjing adalah binatang yang tidak bisa berpikir. Dia ini kurang memperhatikan bahwa makhluk ini juga menerima rahmat Allah yang juga berpotensi untuk memantulkan sebagian rahmat yang diterima itu kepada makhluk lain.

Tipe kedua, orang yang ketika bertemu dengan anjing, rasa takutnya tidak dominan. Ketika anjing ini menyalak di depannya, dan kebetulan itu di depan rumah majikannya, dia merasa terhina, karena dia merasa lebih cakep dan lebih kuat dari anjing itu. Kalau bukan karena takut berurusan dengan pemilik anjing itu, dia sudah lakukan kekerasan pada anjing ini. Dia ini bete dengan sikap anjing yang arogan karena dilindungi undang-undang. Karena takut pada implikasi hukum ini, dia pun berusaha menenangkan anjing itu, biar tidak melanjutkan salakannya, seraya mengharap bahwa pemiliknya segera menenangkan anjing yang sedang unjuk gigi itu, supaya tidak ada kekerasan yang ia lakukan terhadap anjing itu. Kalau memungkinkan, dia pasti sogok anjing tersebut dengan makanan atawa mainan daripada berisik.

Tipe ketiga, orang yang merasa tenang walau disalaki anjing. Orang ini menyadari bahwa anjing ini juga merupakan makhluk yang tersinari rahmat Allah. Dia berusaha menenangkan anjing tersebut seraya berdoa semoga anjing yang menyalak itu, segera menghentikan aksinya. Dia sama sekali tidak terhina dengan aksi anjing tersebut, sekalipun dia punya kekuatan untuk melumpuhkan anjing tersebut, karena dia menyadari bahwa anjing tersebut memang dididik untuk menyalak ketika melihat orang yang tidak dikenal (anjing bukanlah satpam, yang bisa diajari untuk menanyakan kartu identitas jika ada tamu yang kurang dikenal). Karena ketulusan doanya, anjing itu pun sedikit demi sedikit merendahkan nada salakannya.

Tipe keempat, orang yang dipenuhi dengan sifat Allah yang Maha Pengasih, sehingga anjing yang biasanya galak pun akan bersikap sopan terhadapnya. Diilustrasikan, bahwa singa kelaparan pun kalau berhadapan dengan kekasih Allah ini akan luluh. Manusia yang dianugerahi Allah ini, akan selalu menunjukkan kasih sayang pada semua makhluk tanpa kecuali, dan dia tidak merasa ge er kalau ternyata makhluk lain bersikap sopan terhadapnya. Manusia ini bahkan merasa (terutama ketika bermunajat dan beribadah, yang juga terbawa ketika dia berinteraksi dengan makhluk lain antara lain dengan sikap rendah hati) bahwa dia adalah makhluk yang paling rendah di hadapan Allah, lebih rendah dari anjing yang kini berpose (layaknya foto model) di hadapannya itu. Dia sama sekali terbebas dari perasaan bahwa dia itu adalah paling suci atawa paling dirahmati Allah.

Dikisahkan oleh sohibul hikayat (sebagaimana dituturkan kembali oleh Sheikh Nazim al-Haqqani), ada seorang wali yang setiap datang ke masjid untuk berjama´ah, dia senantiasa rela menunggu sampai semua jama´ah masuk ke masjid dulu. Setelah itu dia baru masuk ke masjid, berdiri di samping rak sepatu dan melaksanakan shalat di situ. Seusai shalat, dia langsung lari keluar seraya berujar dalam batin, „Puji syukur pada Allah yang telah menutupi kejelekan dan aibku sehingga tidak ada orang yang mengetahuinya. Jika mereka ini tahu apa sebenarnya yang tersembunyi dalam diriku tentu mereka akan menyeretku keluar dari masjid, dan melempariku dengan sepatu.“

Friday 10 April 2009

Bahkan Kapas yang Berterbangan Pun Mendapat Rahmat-Nya

by: Asfa Widiyanto

Jika kita menengok khazanah klasik Islam, kita mungkin menjumpai bahwa salah satu kategori jiwa yang utama adalah "jiwa yang senantiasa dipenuhi dengan rahmat-Nya" (al-nafs al-rahmani). Jiwa kategori ini merupakan "wadah" yang memantulkan (dengan kadar yang relatif tinggi) akan sifat Allah yang Maha Pengasih (al-Rahman). Makhluk yang dianugerahi Allah dengan kondisi jiwa semacam itu akan lebih mengedepankan "positive thinking" daripada "negative thinking", perasangka baik daripada prasangka buruk. Bahkan dia dengan senang hati mendoakan orang yang berseberangan dengan dia, seraya menyadari bahwa orang yang berseberangan itu juga layak mendapat rahmat-Nya sehingga selalu tertuntun ke arah kebaikan.

Makhluk yang berjiwa rahmani ini juga menyadari bahwa kekerasan atas nama apapun kurang bisa diterima, baik atas nama stabilitas politik, atas nama paham keagamaan tertentu atawa atas nama pembersihan etnis. Semua kekerasan itu berpangkal pada asumsi bahwa "kita diperkenankan dan berhak melakukan kekerasan pada makhluk yang ditakdirkan Allah untuk berbeda dengan kita." Atau dengan kata lain, kita berpandangan bahwa, “mereka kurang layak menyandang status manusia (less human than us)".

Makhluk berjiwa rahmani tadi juga menyadari bahwasanya, “wa rahmati wasi´at kulla shay´(Rahmat-Ku menjangkau dan meliputi segala sesuatu)”. Kalimat tersebut menandaskan bahwa rahmat Allah itu sangat luas, tidak terbatas, dan meliputi segala sesuatu di alam semesta, termasuk antara lain pada saudara-saudara kita yang berbeda keyakinan, yang sementara ini berseberangan dengan kita. Bahkan dilukiskan bahwa kapas yang berhamburan tertiup angin pun mendapatkan rahmat Allah. Salah satu pengejawantahan dari ajaran Islam, yang bertujuan memberikan rahmat pada sekalian alam, adalah sebuah hadith yang mengisahkan seseorang yang diperkenankan Allah untuk masuk surga karena telah memberi minuman pada anjing yang kehausan. Bahkan dikisahkan anjing milik Ashab al-Kahf (sekelompok pemuda taat yang tertidur di gua) pun diperkenankan masuk surga (yang merupakan manifestasi rahmat Allah).

Kembali pada kalimat tadi, yakni bahwa rahmat Allah meliputi menjangkau dan meliputi segala sesuatu, walau dengan kadar yang berbeda-beda. Dari premis ini, ada sementara orang yang menyatakan bahwa iblis (dan anak keturunannya) pun turut "menerima" dan "merasakan" rahmat Allah. Dikisahkan, iblis dinyatakan dilaknat oleh Allah karena tidak bersedia pasrah secara total pada kehendak Allah. Namun di sisi lain, iblis juga "dikaruniai" rahmat-Nya (walau dengan kadar dan intensitas yang jauh berbeda dengan rahmat yang diterima insan yang beriman), misalnya, dengan dikaruniai hak dan kesempatan hidup hingga hari akhir. Karena rahmat yang relatif sedikit itu, sementara yang dominan adalah laknat, maka iblis sering dilabeli dengan "ar-rajim" atawa "al-mal'un" (yang terlaknat), dan sering diasosiasikan dengan kejahatan bahkan "akar segala kejahatan" (the origin of all evils).

Ini juga mengingatkan penulis pada persoalan yang diperdebatkan para teolog semacam "mengapa Allah menciptakan kejahatan, iblis dan sebangsanya, kalau memang Dia menghendaki kebaikan dan Dia sendiri adalah Maha Baik". Mungkin persoalan yang cukup pelik (dan kiranya tidak perlu saya sampaikan panjang lebar di sini) ini bisa kita pahami secara lebih sederhana (walau tidak mesti berarti "menyederhanakan" persoalan) dengan menyadari bahwa hidup di alam semesta ini, sering ditamsilkan sebagai ujian, cobaan, atawa "learning process". Dan tentunya kesetiaan kita terhadap kebenaran dan kebaikan akan dihargai oleh Allah, yang Maha Benar dan Maha Baik, dengan mendapatkan limpahan kasih sayang-Nya di dunia dan di hari kelak, insha'allah. Dan yang lebih penting dari itu adalah menjadikan Allah semoga satu-satunya tujuan, seraya hanya mengharap ridha-Nya, sebagaimana ungkapan yang sering diucapkan oleh para 'ulama', "Ilahi anta maqsudi, wa ridhaka matlubi" (Wahai Tuhanku, cuma Engkau satu-satunya tujuan, dan hanya ridha-Mu yang aku harapkan).

Tuesday 7 April 2009

"Golput? Makanan Apa Itu?": Makhluk yang (“Dikutuk” dan) Tidak Dikehendaki Keberadaannya Itu

by: Asfa Widiyanto

Seorang dukun bayi (yang inshaallah kecerdasannya relatif di atas rata-rata, bahkan dari rata-rata orang yang "menenggelamkan" diri dalam politik praktis-))) berusaha mengumpulkan informasi dari berbagai sumber (nguping sana-sini), termasuk antara lain dari internit (dunianya si maya), kolega, rekan kerja dan sahabatnya semacam tukang pijat, penjual mie ayam, penjual soto dan sebangsanya. Dari informasi itu dia "berfatwa": “jika memakai pendekatan fenomenologis, sosiologis dan sebangsanya, golput minimal bisa diklasifikasikan menjadi enam macam”:
a. 'Golput jenuh', yang tidak mau lagi memikirkan politik, karena sudah puas dengan keadaan atau juga sebaliknya, karena putus asa, alias “mutung”. Jadi golput di sini adalah kepanjangan dari golongan putus asa.
b. 'Golput angkuh', yang merasa diri begitu suci dan luhur hingga harus berada di atas semua pihak. “In Golput We Trust!!!”, begitu semboyan mereka.
c. 'Golput ampuh' , `golput' yang merupakan isyarat yang penting dan berguna bagi para politisi: sebagai sebuah aksi politik, sebuah protes terhadap penyelenggaraan pemilu dan perilaku para politisi. Mereka mengklaim bahwa ini sebuah suara yang menuntut perbaikan.
d . 'Golput misuh-misuh', yaitu orang-orang yang memilih golput sambil misuh-misuh karena calonnya yg digadang-gadang tidak katut (tidak masuk dalam daftar).
e. `Golput keruh' atawa ´golput mbah mbuh´, yang tidak pergi ke TPS karena bingung, kekurangan informasi, jadi tidak nyontreng. Ketika salah seorang teman menanyakan pada mereka, "Kamu golput ya, kok tidak ikut ke TPS?". Dia menjawab dengan entengnya, "Golput? makanan apa itu? TPS? makhluk macam mana pula itu?". Kata seorang tukang pijat, "Kita harus berpikir positif bahwa kelompok ini juga warga negara Indonesia, yang, dari satu sisi, belum bernasib baik antara lain karena belum mendapatkan pendidikan politik secara memadai".
f. ´Golput bete`, yang tidak mau nyontreng karena bete dengan lembaga tertentu. Kelompok ini tidak habis pikir (mungkin karena keterbatasan pikiran mereka, namanya juga manusia), “hak kok bisa jadi kewajiban, pertanda zaman apa pula ini.” Mereka sudah berpikir dengan keras, menyempatkan diri untuk membaca khazanah pemikiran politik dari zaman Yunani klasik sampai masa kontemporer, tapi masih belum ketemu juga. Mereka melihat golput sebagai bagian tak terelakkan dari proses demokrasi, namun kemudian (´dikutuk´ dan) tidak kehendaki keberadaannya oleh sementara orang, dan kadang diperlakukan layaknya 'anak haram' demokrasi. Malang nian nasibmu nak golput. Kelihatannya bukan salah bunda mengandung. Sementara orang berujar, “Kalau kita dianugerahkan Allah kepandaian, alangkah baiknya bila kepintaran kita itu tidak digunakan untuk membodohi orang lain. Kalau kita bodoh, ya sebaiknya tidak mengajak orang lain ikut-ikutan bodoh, atau dengan kata lain, jangan menular-nularkan kebodohan dan kesempitan berpikir kita pada orang lain. Kita harus berupaya agar beban negara untuk mencerdaskan kehidupan bangsa tidak semakin berat.”

Di akhir perbincangan, dukun bayi itu berujar, “Terus terang saya tidak golput, tapi saya tidak membenci bahkan bisa memahami saudara-saudara kita yang ´golput´. Saya berusaha berpikir positif, inshaallah tidak berkurang pahala amal kebajikan saya bila saya berempati pada semua orang termasuk yang memilih golput dan yang mengharamkan golput. Semoga Allah memberkati kita semua agar senantiasa tertuntun pada kebaikan. Amin.”

Sunday 5 April 2009

Seonggok Makhluk yang Dirahmati Allah

by: Asfa Widiyanto

Saya teringat pada salah seorang teman di masa kecil dulu (sekarang dah relatif tua-)). Kawan saya ini memiliki kepribadian yang unik, yang sebenarnya bisa dilihat sebagai merefleksikan beragam hasrat, keinginan dan cita-citanya.Pertama, teman saya ini kadang memaksakan untuk mampir ke tempat seseorang sekali pun orang tersebut misalnya ada acara lain. Suatu hari, misalnya, dia berujar, "Pokoknya besok saya ke tempatmu, mau pinjam sesuatu, kalau kamu tidak bukakan pintu, saya akan tetap berusaha masuk". Mungkin teman saya ini mengandaikan dirinya sebagai aktor yang berperan sebagai petugas tibum (ketertiban umum). Kedua, teman saya ini hobi "mengultimatum" orang lain. Ini mungkin karena kelewat terobsesi untuk menjadi pegawai salah satu institusi yang disegani dunia. Ketiga, temen saya ini kadang menghakimi seseorang dari penampilan lahiriyya semata. Ini diambil sisi positifnya saja, mungkin teman saya ini sedang berusaha belajar jadi hakim. Keempat, teman saya ini hobi bertanya pada orang lain, termasuk dalam hal yang sebenarnya bisa dia baca di antara buku koleksinya. Dan jika misalnya yang ditanya kebetulan belum sempat menjawab, dia akan mengemukakan dalih "menyembunyikan ilmu itu dosa". Kita lihat sisi positifnya saja, mungkin dia ini pembelajar sejati yang berpotensi menjadi moderator atawa ilmuwan atawa detektif.

Kelima, si dia ini kadang tergerak hatinya untuk mengorek rahasia orang lain. Dan kalau misalnya orang tersebut tidak mau mengemukakan rahasia tersebut, teman saya tadi mengajukan jurus, "Saya tanya kamu itu supaya menghilangkan prasangka buruk saya terhadapmu, dan menghilangkan prasangka buruk orang lain itu hukumnya wajib". Dalam hal ini, kita juga tetap harus berpikir positif, mungkin saja teman saya ini punya bakat terpendam sebagai wartawan infotainment (ssst... tapi kalau wartawan infotainment baca tulisan ini dan mengadopsi argumen teman saya tadi, bisa mati kutu itu para artis, tidak bisa bilang "no comment" lagi--)).Keenam, dan ini yang terpenting, dia itu baik hati pada semua orang. Hampir semua orang yang dikenalnya pernah diundang makan yakni menikmati aksi PPPK (Pertolongan Pertama Pada Kelaparan). Dalam hal ini jelas kita harus memberi apresiasi positif. Mungkin saja, kelak ketika dewasa dia ingin jadi orang kaya yang dermawan dan peduli pada sesama.Tapi sedihnya saya tidak tahu persis di mana rimbanya. Semoga saja keinginan dan cita-citanya yang seabrek dan beraneka warna tadi tercapai.

Saturday 4 April 2009

„Manusia Sebagai Makhluk yang Terbatas (antara lain oleh Ruang dan Waktu)…“

by: Asfa Widiyanto

Salah satu pelajaran yang penulis terima, dan penulis merasa berat mempraktekkannya adalah tentang kesiapan jiwa. Tingkat kesiapan dan kematangan jiwa kita, antara lain, tercermin ketika melihat dan berpapasan dengan makhluk yang kebetulan kurang berkenan di hati kita, misalnya ada orang yang menurut penglihatan berperangai kurang baik, ada orang tertimpa sesuatu yang yang menurut penglihatan kita kurang berkenan atau ada orang yang mengambil keputusan yang berpotensi mengundang cibiran khalayak ramai.

Pada level pertama, ketika kita melihat sesuatu yang kurang berkenan tadi, kita dianjurkan untuk membaca "nau´dhu billah min dhalik" (kita berlindung pada Allah dari kondisi seperti itu). Pada level kedua kita dianjurkan untuk membaca "baraka Allah fih in kana fih khayr" (semoga Allah memberkatinya jika memang ada kebaikan padanya). Pada level ketiga, kita dianjurkan mengucapkan "baraka Allah fih" (semoga Allah memberkatinya). Ungkapan terakhir ini, terkandung implikasi harapan yang tulus bahwa makhluk yang tadi dilihat itu diberkati Allah. Kalaupun ada yang kurang baik pada makhluk itu, dia mendoakan agar makhluk tersebut diberkahi Allah sehingga tertuntun ke arah kebaikan. Dalam tataran ideal, orang yang mengucapkan frase terakhir ini berusaha untuk selalu berpikir positif pada makhluk lain, dan tidak menilai makhluk lain semata dari penampilan lahiriyahnya.

Ini mengingatkan penulis pada cerita yang kadang dikutip para ´ulama´ tentang seseorang yang ditakdirkan menjadi wali sejak di buaian ibunya. Dikisahkan, suatu hari, wali tersebut diteteki ibunya. Tiba-tiba lewat di depan rumah, seorang lelaki berkuda, yang gagah berani, dan berpakaian mempesona. Ibu tersebut terkesan dengan orang yang baru saja lewat, seraya berujar, "Ya Allah jadikanlah anakku seperti orang itu". Tapi anak itu bereaksi negatif, dengan sedikit menggigit puting ibunya sehingga sang ibu terperanjat. Selang beberapa saat, ada seorang wanita yang diseret-seret beberapa orang, yang meneriakkan yel-yel (layaknya cheer leaders), "kamu pezina, kamu pezina!". Melihat kejadian itu sang ibu berujar, "Na´udhu billah, semoga anakku nanti tidak jadi seperti dia". Tapi anak itu bereaksi negatif, dengan sekali lagi sedikit menggigit puting ibunya. Sang ibu itu pun heran. Sang anak kemudian diberi anugerah Allah untuk menjelaskan kepada ibunya. Si anak pun lantas berujar, "Wahai Ibu, orang laki-laki yang ibu lihat tadi, adalah orang yang sangat ingkar pada Allah. Sedangkan perempuan yang dituduh berzina itu adalah orang yang bersih hatinya dan pasrah secara total pada Allah. Dia tidak mengharapkan bantuan selain Allah ketika disiksa makhluk seraya berucap, "hasbiya Allah" (cukuplah Allah (saja yang menolongku)).

Ini juga mengingatkan penulis pada kisah Nabi Musa as dan Nabi Khidr as, yang diangkat Al-Qur´an. Kisah ini antara lain memberikan pesan pada umat manusia untuk tidak terburu-buru untuk menghakimi sesuatu berdasarkan penampakan lahiriyahnya semata. Para ´ulama sering mengingatkan kita untuk tidak tergesa-gesa menghukumi seseorang sebagai kafir, karena kalau ternyata si tertuduh tadi tidak seperti yang dituduhkan, maka tuduhan itu berpotensi untuk kembali pada kita sendiri.

Sementara ´ulama´ menggarisbawahi pentingnya seorang anak manusia untuk memiliki seorang guru, apa pun namanya (ustadh, kyai, sheikh, murabbi atau yang sebangsanya), yang bisa mengajarkan manusia tersebut untuk senantiasa bersikap rendah hati pada kebenaran, tidak tergesa-gesa menarik kesimpulan pada hal-hal yang belum semestinya disimpulkan (dalam hal ini, sebagai intermezzo, makhluk tersebut bisa menarik-narik kolor dulu, misalnya, daripada bete), menjaga hatinya dari apriopri dan berprasangka buruk pada makhluk lain (apa lagi kalau sampai melakukan pembunuhan karakter)) serta menjaga hatinya dari rasa bangga yang terlalu berlebihan.

Di penghujung tulisan ini, penulis mengajak pembaca dan terutama penulis sendiri untuk merenungi salah satu hadith. Hadith tersebut adalah, "Ada tiga hal yang bisa membawa seseorang pada keselamatan, dan ada tiga hal pula yang bisa menjerumuskan seseorang pada kebinasaan. Adapun tiga hal yang menyelamatkan itu adalah takwa pada Allah baik dalam keadaan sepi maupun ramai, konsisten mengatakan kebenaran ketika dalam kondisi benci dan ridha, senantiasa sederhana dalam kondisi kaya maupun papa. Adapun tiga hal yang membinasakan itu adalah hawa nafsu yang diperturutkan, kikir yang diperturutkan, dan rasa bangga yang berlebihan pada dirinya".

Thursday 2 April 2009

"Ada Apa dengan Sarung yang Dipenuhi Rahmat Itu"

by: Asfa Widiyanto

Melihat keterpanaan sementara teman terhadap sarung yang dipakai makhluk yang inshaallah dirahmati Allah,
saya teringat pada kategori sosial semacam "abangan" dan "santri" yang menarik perhatian antropolog semacam Robert Jay, Clifford Geertz dan sebangsanya.

Jika kita perhatikan, sarung, kerudung dan sebangsanya sering dipakai kaum santri. Maka kaum santri terutama yang tradisionalis sering diberi label "kaum sarungan". Jika kita amati secara selayang pandang, banyak dari santri di pondok pesantren ngefans banget dengan pakaian unik ini. Ada juga sementara orang yang suka dengan pakaian ini karena kepraktisannya, so tidak perlu lagi pakaian bawah lagi, kilah mereka. Kata sementara pakar kesehatan, cara berpakaian seperti itu adalah relatif sehat, di satu sisi, walau mungkin relatif kurang "menyehatkan" bagi yang melihatnya, di sisi lain. Ada juga sementara orang, yang mengidentifikasikan sarung dengan sunatan karena itunya, maksudnya, karena itu sarung sangat nyaman dipakai orang yang sunatan. Di beberapa daerah, sarung acap kali dipakai orang menjelang dan setelah menunaikan ibadah kepada istrinya.

Di sudut lain, blangkon dan "kemben" sering diidentifikasikan dengan kaum "abangan". Di beberapa daerah, malah ada kelompok islam "sinkretis" yang dijuluki "islam blangkon".

Dari sini bisa kita lihat bahwa pakaian sering dikait-kaitkan dengan simbol. (Ilmuwan sosial dan humaniora sering mencermati "symbol" dan "what beyond the simbol", atau kata pakar semiotika, "sign" dan "signified"). Dan pesan di balik simbol itu kadang cair (fluid). Pengamat dan aktivis politis mungkin lebih memperhatikan pesan dan implikasi apa yang hendak disampaikan seseorang dengan pakaiannya. Dalam beberapa kasus, simbol seringkali jadi isu sensitif dan juga sering diperebutkan dan jadi bahan pertikaian.

Ada sementara orang berfatwa, bahwa salah satu kerjaan ilmuwan sosial dan humaniora adalah membuat permasalahan yang rumit menjadi relatif sederhana, dan sebaliknya, menyulap persoalan yang kelihatannya sederhana menjadi relatif rumit. Cara berpikir ilmuwan sosial dan humaniora, ada yang mengibaratkan, seperti orang naik sepeda, kadang ngebut, ngerem, ngepot, jumping, naik trotoar, balapan dengan bis, jalan sangat lambat sampai nyaris seperti diam dan sebangsanya (tapi ada juga makhluk, yang kalau menyepeda sering kagetan dan terkenyut, terutama ketika melihat sesuatu yang mengezutkan seperti makhluk mempesona dan anjing (entah apa analogi dan benang merah antara anjing dan makhluk cakep), sampai sampai ada bunga di tepi jalan yang terpesona, tergoda dan tergerak untuk menirukan gerakannya di belakangnya).

"Tidak Ada yang tidak Berubah Kecuali Perubahan Itu Sendiri"

by: Asfa Widiyanto

Dikisahkan oleh sohibul hikayat, Heraklitos, seorang filosof Yunani klasik, di siang hari bolong-bolong itu sedang merenung di sungai (ini kelihatannya si Heraklitos bukan cowok matre, kalau ya, kemungkinan besar dia berpikir "kelaut aje") (kebiasaan pergi ke sungai juga kadang dilakukan sementara makhluk, walau dengan motivasi yang berlainan, ada yang tertarik untuk melihat keindahan yang mempesona, ada pula yang bertujuan mengusir suntuk kala kangen kampung halaman)

Kembali pada si Heraklitos yang tidak matre tadi. Si Heraklitos mengamati aliran sungai, sambil mencoba memasukkan batu ke dalam sungai. Dia berpikir bahwa batu yang dimasukkannya ke dalam sungai bisa dikatakan "berubah" karena batu itu pada hakekatnya berbeda dengan batu beberapa menit sebelumnya. Dia melihat bahwa batu itu dilingkupi tempat (space) dan waktu (tempo) yang berubah. Tidak mungkin batu itu sama pada setiap waktu dan tempat, karena waktu dan tempat itu sendiri berubah, pikirnya. Dari pengamatan itu kemudian dia menarik-narik kesimpulan (daripada menarik-narik kolor kan kelihatan culun) bahwasanya "pada dasarnya semua yang ada di alam semesta itu berubah" dan "tidak ada yang tidak berubah kecuali perubahan itu sendiri". Mungkin kalau si Heraklitos ini ditakdirkan jadi pemimpin partai, dia akan mengusung tema perubahan ini sebagai agenda utama partainya. Atau jangan-jangan sebagian pemimpin partai terinspirasi oleh ide si Heraklitos. Tak tahu lah-))

Sampai di sini semoga tidak ada yang bingung. Kalaupun bingung, itu adalah wajar, dan itu merupakan fase dalam mencerap pengetahuan dan mendekatkan diri pada kebenaran. Al-Ghazali sendiri, yang hidup di abad 12, menyatakan bahwa "keragu-raguan adalah awal dari pengetahuan". Sementara filosof kemudian mengemukakan, "tidak ada yang tidak diragukan kecuali keraguan itu sendiri" (nah lo...). Ungkapan ini, seperti disinyalir sementara pakar, mengilhami munculnya "scepticism" dan "empiricism" (yang antara lain dimotori oleh Francis Bacon, filosof Inggris abad 17), yang kemudian pada gilirannya memicu perkembangan ilmu pengetahuan modern.

Wednesday 1 April 2009

Sekilas tentang Proses dan Produk Berpikir

by: Asfa Widiyanto

Kata "ijtihad" atau "istinbat (al-ahkam al-shar'iyya)" kadang sempat mampir di telinga kita. Kata ini biasanya sering diterjemahkan "legal reasoning", walau sebenarnya secara harfiyya kata ijtihad atawa istinbat itu merujuk pada proses berpikir secara umum yang salah satu tujuannya adalah menemukan kesimpulan atawa penyelesaian dari masalah yang ada.

Dalam hal ijtihad, sering diungkapkan bahwa "idha ijtahada al-hakim fa asaba fa lahu ajrani wa idha akhta'a fa lahu ajrun wahid" (jika seorang pelaku ijtihad bisa menyentuh kebenaran maka dia mendapat dua pahala, jika dia belum menggapai kebenaran maka dia memperoleh satu pahala). Ungkapan ini sering dipahami sebagai apreasiasi terhadap makhluk yang mau menggunakan daya pikirnya, tentunya dengan berupaya menaati alur berpikir yang sahih. Ungkapan ini juga bisa dipahami sebagai penandasan akan keterbatasan manusia dalam mencerap kenyataan dan mendekatkan diri kepada kebenaran. Dalam hal ini kerendahhatian pelaku ijtihad sangat diharapkan. Jangan sampai misalnya, pelaku ijtihad "over-convident" dan "kelewat optimis" bahwa produk pemikirannya layak menyandang status benar karena itu pantas mendapat dua pahala dari Tuhan, tanpa memikirkan kemungkinan lain, bahwa pelaku lain juga punya kesempatan yang sama, misalnya.

Salam dari seorang manusia,
(sengaja saya tidak memakai frase yang sering dipakai para ulama´ semacam, “humble seeker of the Truth”, “al-salik fi tariq al-Haqq”, “al-faqir ila al-Haqq”, kerana belum maqamnya bzw. belum pada tempatnya. Kata sementara orang, kalau kita kurang hati-hati menggunakan frase tersebut, alih-alih berfungsi untuk menekankan kerendahan hati kita, malah sebaliknya hanya sebagai perisai untuk menyembunyikan arogansi bzw. kepongahan kita yang cenderung “meletup-letup” (secara perilaku kita lebih mengesankan sebagai “pemborong kebenaran" atau yang relatif lebih parah adalah kalau sampai mengklaim sebagai "pemegang hak paten atas kebenaran")).