Friday, 10 July 2009

Doraemon, Capres Capresan dan Capres Beneran

by: Asfa Widiyanto

“Peristiwa” pencontrengan (ketika rakyat dan bangsa Indonesia "dipaksa" sejarah untuk menjalani “ritual” yang bernama pemilu) telah berlalu, namun menyisakan begitu banyak kesan di benak kita. Salah satu yang saya tangkap (ini kenapa saya tulis “tangkap” ya, kayak mau mencuri ayam aja harus ditangkap dulu, saya tidak habis pikir) di sela-sela gegap gempita event ini adalah penyandingan tokoh-tokoh doraemon dan para capres di negeri kita tercinta. Ilustrasi tentang Doraemon dan pilpres bisa dilihat di sini misalnya http://sikathabis.multiply.com/photos/album/450. Saya
kurang tahu, ini "kreatifitas" bermula dan berujung dari makhluk mana.

Tentang penyandingan ini ada yang melihatnya sebagai pelecehan. Ada yang melihat sebagai "buah" kreatifitas (ini mesti yang ngomong penjual buah, orang nyidam buah dan sebangsanya) dan upaya "demistifikasi" figur capres (yang ngomong poin terakhir ini mesti orang yang sok keminter). Bagi kelompok terakhir, makhluk bernama capres bukanlah sesuatu yang tabu untuk dikarikaturkan, atawa disandingkan dengan tokoh-tokoh kartun.

Fenomena penyandingan capres dengan tokoh kartun itu mungkin sebagai efek dari sudah terbukanya "kran" demokrasi, terutama sejak era reformasi.
(Oya, kenapa ini harus pakai istilah “kran” ya, pakar politik analognya dan logikanya kadang "anakronis". Kalau arkeolog dan sejarawan mungkin tertarik untuk melihat apakah kran itu dah “berkeliaran” di masa yunani kuno saat para filsuf “menelurkan” (ini filsuf kayak ayam aja pakai aksi menelurkan segala) dan “menggembar-gemborkan” (ini lagi filsuf gembar gembor kayak kernet, calo dan tukang palak dan sebangsanya) konsep demokrasi. Kalimat dalam kurung(an) ini tidak logis, jadi jangan diperhatikan).

Oya, mungkin juga karena makhluk kreatif yang menyandingkan capres dengan tokoh-tokoh di dunia doraemon ini terlalu yakin seyakin-yakinnya, sebebas-bebasnya, dan sebablas-bablasnya (dan berpikir kelewat positif) bahwa tidak akan ada orang-orang yang akan membela capres (dan parpol) dengan sangat semangat seperti halnya mereka membela Nabi dan agama.

Saturday, 30 May 2009

Capres-capresan sebagai Ajang Pembelajaran Politik

by: Asfa Widiyanto


Terus terang saya sangat terkesan dengan dinamika diskursus pilpres di beberapa media massa dan mailing list akhir-akhir ini. Semoga kita semua, tanpa kecuali, bisa mengambil sisi positifnya. Kita boleh aja ngefans dengan salah satu capres, tapi semoga kita (termasuk saya, karena kecenderungan itu manusiawi) tidak tergiur dan tergoda utk melakukan "negative campaign". Saya sangat sadar bahwa apa pun pilihan kita di pilpres nanti, kita tetap satu bangsa dan brsaudara.

Dialektika dalam ngefans-ngefans-an capres itu tentu ada nilai positifnya, antara lain sebagai ajang pembelajaran politik, supaya kita bisa lebih "melek" dan cerdas secara politik. Dan tentunya berpolitik secara sehat akan lebih menambah nilai positif itu, yang pada gilirannya akan turut bersumbangsih secara positif bagi kemajuan bangsa.

Widi
(yang untuk sementara lebih senang mengiklankan diri sendiri daripada mengiklankan capres-))

Monday, 25 May 2009

Bacaan "Indah" di Masa "Indah" Itu (Juz. 2)

by: Asfa Widiyanto

Fatwa seorang bakul jamu, “kadang kita harus hati-hati dalam mencerna dan menelan tulisan di media semacam “era muslim” dan “suara hidayatullah”. Sebagian tulisan dalam media ini kadang mencampuradukan (sampai “mulek” dan tidak jelas) antara “analisis”, “fakta”, dan “penghakiman”. Sebagian tulisan dalam media ini kadang mengaduk-aduk dan membidik “sentimen” dan “emosi” keagamaan, belum beranjak ke ranah “kedewasaan beragama” alih-alih pada spiritualitas. Walau harus diakui bahwa ada sebagian tulisan di media ini sudah menyentuh ranah “kedewasaan beragama”.

“Kedewasaan beragama” adalah sebuah keberagamaan atawa sikap beragama yang berupaya memaknai kesalehan dan keimanan dalam arti luas, antara dengan menghayati makna kesalehan dan keimanan bagi kemaslahatan bangsa, agama dan umat manusia secara umum. Sikap beragama yang tidak mudah tergesa-gesa dalam “menghakimi” orang lain yang berbeda sikap dan pandangan. Sikap beragama yang menghindari menyalahkan dan mengkambinghitamkan orang lain sebagai penyebab dalam melupakan sebagian ajaran agama. Salah satu contoh dari tulisan bernuansa relatif lebih positif ini adalah tulisan seorang bonek di “era muslim” (sengaja saya tulis ini biar tidak diultimatum untuk mencabut pernyataan oleh bonek yang dirahmati Allah itu--)).”

Pola tulisan yang kurang dewasa itu memang bisa kita temukan di media-media lain (seperti kata Ike) walau dengan kadar dan intensitas yang berbeda-beda. Karena itu, dibutuhkan kekritisan (di samping juga kearifan) dalam mencerap semua informasi, baik yang berasal dari kelompok kita sendiri maupun dari kelompok lain. Sikap kritis, klarifikatif, tabayyun atau term lain yang senada memang layak kita pelihara dalam menyikapi setiap informasi. Sedangkan kearifan memberikan ruang yang relatif layak dalam diri kita untuk menerima kemungkinan adanya kebenaran di kelompok lain.

Si penjual buah berujar, “Kita sebaiknya lebih memperhatikan apa yang dibicarakan (materi pembicaraan) dari pada orang yang mengeluarkan pernyataan. Ungkapan ini menandaskan bahwa kearifan itu bisa muncul dari mana saja, dan kadang tidak terikat dengan status sosial dan embel-embel dari “produsen statement”. Ungkapan ini juga senada dengan ´ambillah hikmah dimana saja sekalipun itu keluar dari mulut makhluk yang kita anggap hina´. Di sisi lain, kita dianjurkan untuk ´memperhatikan dari mana kita mengambil ilmu agama kita´. Dalam khazanah Islam, ungkapan ini kemudian meniscayakan perlunya akan guru yang otoratif dan melahirkan konsep-konsep semacam silsila (chain of authority), isnad (chain of transmission) dan ijaza (licence or authorization). Di sisi lain lagi, kita dianjurkan untuk melakukan klarifikasi (tabayyun) atas informasi yang kita terima dari orang lain. Teks aslinya adalah “idha ja´akum fasiq bi naba´” (jika seorang fasiq membawa kabar padamu). Walau sikap kritis sebaiknya kita terapkan pada hampir setiap kita menerima informasi dari orang lain. So wahai bakul jamu, pikirkan dan renungkan sendiri relevansi dan korelasi antara ketiga hal itu. Itu PR buatmu!.”

Neo-Liberal, Kebangsaan atawa Kerakyatan?

by: Asfa Widiyanto

Ketika seorang teman mengajukan pertanyaan seperti itu, saya pun jadi bingung. Maka kemudian saya menyempatkan diri untuk silaturahim dan bertanya sana sini sinu.
Karena sekarang lagi di desa,saya cuma bisa tanya pada dukun bayi. Beliau berfatwa, "Sejauh ini saya belum melihat perbedaan yang mendasar antara ketiga paham yg digembar-gembor- gemburkan itu. Ketiga istilah itu, sejauh pemahaman saya, tidak berasal dari rumpun yang sama. Penunjukkan ketiga term itu juga menurut saya belum jelas. Pernyataan saya ini juga tidak jelas, dan hanya bertujuan membuat semangkin tidak jelas sesuatu yang kurang jelas".

"Paham jualan capres itu (dan label terhadap program jualan capres) kadang kurang tegas dan pilah substansinya. Apa ini karena tipologi sendiri kadang tumpang tindih dan berselingkuh sana sini. namun kalau pun toh tipologi itu terbiasa tumpang tindih, seharusnya orang yg menggagas dan memberi label pada sebuah pemikiran lebih hati-hati, sehingga isinya juga relatif lebih terarah dan jelas."

Dalam beberapa hal saya lebih menemukan kearifan dalam fatwa bzw. pernyataan dukun bayi daripada pernyataan sementara lembaga. Mungkin karena dia berpikir secara lebih independen dan setia pada idealismenya, pada kaedah berpikir yang sahih. Sedangkan sementara lembaga ini kadang terkesan menggadaikan idealismenya demi menghamba pada “kepentingan politik” tertentu. Dengan kata lain, dari satu sisi, bisa dikatakan mereka ini kaum merdeka dan terpelajar namun dengan "mentalitas budak".

Salam,
Widi (bakal-bakal capres)
“Kalau bangsa ini ingin tetap terjaga “kesatuan” (vidhi, sanskerta) dan bergerak secara progresif dengan berdasar pada “pengetahuan dan kearifan” (vidya, sanskerta), maka pilihlah saya” (Pernyataan ini tidak logis, kontradiktif, tidak pada tempatnya, tarkesan (arogan dan) narsis. Kalau saya memang arif mengapa harus mengaku-aku dan menunjuk-nunjukkan diri sebagai orang yang arif, dan mengapa pula harus mengklaim sebagai satu-satunya orang yang bisa membawa bangsa pada kemajuan berdasar pengetahuan dan kearifan).

Wednesday, 13 May 2009

Presiden Negeri Tercinta Itu

by: Asfa Widiyanto

Menurut penerawangan seorang dukun bayi, "Presiden Indonesia itu namanya harus mengandung "Su". Coba liat saja, presiden pertama Sukarno, kedua Suharto, ketiga Habibie (lho yang ini kok ndak ada "Su"-nya....ada aja, Habibie itukan dari bahasa Arab, kalau diterjemahkan ke bahasa jawa jadi Sutrisno. Oya, nama lengkap Habibi itu kan Baharuddin Yusuf Habibie, walau "Su"di "Yusuf" itu kurang dominan, antara lain karena bukan di awal kata), keempat Abdurrahman Wahid (lho yg ini juga tidak ada "Su"-nya....ada aja, Wahid itu kan kalau diterjemahkan ke bahasa Jawa jadi "Suiji"...bentuk penyangatan (ism al-ta´kid) dari "siji", yang berati satu). Megawati juga ada "Su"-nya, kan nama lengkap beliau adalah Megawati Sukarno Putri, dan kata sementara pengamat beliau jadi presiden karena faktor "Sukarno putri"-nya. Presiden kelima juga ada "su"-nya, yakni Susilo Bambang Yudhoyono, seseorang yang dijuluki sebagai "militer yang sipilis"."

Tetangganya, seorang dukun pijat keluaran Ucla (Universitas Claten) tidak mau kalah. "Menurut hemat saya, belajar dari sejarah yang ada, nama presiden Indonesia itu idealnya ada vocal "o"-nya. Makanya Gus Dur dan Habibie "tidak betah", hanya mampir sebentar, cuma mampir minum. Itu antara lain karena tidak siap secara batin atawa "maqam"nya kurang cocok untuk itu. Oya, saya setuju dengan pendapatmu tadi wahai sobatku dukun bayi, bahwa Megawati itu jadi presiden antara lain karena unsur "Sukarno Putri" nya. Lebih tepatnya vokal "o" di Sukarno Putri. Vokal "i" di Megawati itu dari satu sisi adalah kurang kuat (untuk tidak mengatakan lemah)."

Tetangganya, seorang tukang ojek, yang turut menyaksikan perdebatan itu pun urun rembug. "Kalian itu pada ngawur. Itu semua hanya pelintiran dan upaya "mempleset-plesetkan". Istilah Jawa-nya "otak atik gathuk". Tapi tidak apa, kalian lumayan "kreatif" walau agak naif dan mengada-ada sih. Dalam beberapa hal sama "kreatif" dan terkesan “mengada-ada”-nya dengan orang yang bilang bahwa, "kalau negara ini mau dapat "petunjuk", maka harus rela dipimpin oleh orang yang bisa memberi "petunjuk". Sekali saya tegaskan, menurut hemat saya, semuanya adalah "otak atik gathuk", jadi jangan lantas "diimani" secara membabi buta."

Friday, 24 April 2009

Bacaan yang “Indah” di Masa-masa “Indah” Itu (Juz 1)

by: Asfa Widiyanto

Membaca tulisan yang banyak beredar di dunia si maya tentang syura yang dilawan-lawankan dengan demokrasi, mengingatkan saya pada buku berjudul “Syura dan Demokrasi” (terjemahan dari karya berbahasa Arab "al-Shura la al-Dimukratiyya") yang sempat menarik perhatian saya saat masa-masa indah di kelas 3 SMP dulu. Buku (yang saya beli dengan menyisihkan uang jajan) itu sempat mengaduk-aduk perasaan saya, memunculkan rasa tidak puas yang relatif berlebihan pada pemerintah. Sempat terlintas di pikiran saya kala itu (terutama setelah membaca buku tentang Syura tadi, yang sayangnya buku saya tadi sudah tidak jelas rimbanya, padahal sampai dibela-belain tidak jajan beberapa hari-:)), bahwa sistem yang ada sekarang adalah sistem kufur, karena itu harus “dihancurkan” dan sebagainya.

Kala SMP itu, yang sering mampir, berkelebatan dan dibaca mata saya adalah buku-buku dan majalah-majalah yang disajikan dengan gaya bahasa yang khas, mudah dipahami, mudah dikunyah. “Bacaan ini membangkitkan ghirah islamiyyah” begitu kata sementara teman saya, kala itu. Kata sementara orang, dari satu sisi, yang disentuh dan dibidik oleh bacaan-bacaan seperti ini adalah “sentimen keberagamaan” atawa “emosi keberagamaan”, belum pada “kedewasaan dan kematangan beragama” alih-alih pada “ranah spiritualitas”. Harus digaris bawahi bahwa pernyataan sementara orang ini, juga belum tentu benar, karena terluncurkan dari manusia, makhluk yang “terbatas” itu.

Masa-masa indah itu kemudian dilanjutkan ketika masuk ke bangku SMA. Di sekolah ini (yang juga tak kalah indahnya) saya mulai dipertemukan, diperkenalkan, dihadapkan dan “diaduk-aduk” oleh warna bacaan lain yang relatif beragam, yang kadang relatif tidak mudah dikunyah, bahkan kadang saya perlu mengernyitkan dahi. Bacaan seperti ini kemudian pada gilirannya sempat memancing “intellectual curiosity” saya antara lain tentang apa sebenarnya kebenaran, apa itu keberagamaan, dan apa sebenarnya sisi positif dari keberagamaan, atau dengan kata lain manfaat keberagamaan bagi kemaslahatan manusia dan sebangsanya.

To be continued…(sabar ya, jangan ditarik-tarik kesimpulan dulu, anggap aja iklan numpang lewat-:)))

Saturday, 18 April 2009

Pengandaian di "Alam Ghaib" Itu….

by: Asfa Widiyanto

Alkisah, terjadilah percakapan “virtual” nan „ghaib“ dan "imajiner" antara dua anak manusia, di pojok dunia antah berantah (ini adalah percakapan „virtual“ lagi „ghaib“ dan "imajiner". Bisa jadi pernah terjadi di dunia si maya, atawa semata pengandaian, atawa terjadi secara ghaib di dunia mimpi (karena kata para filsuf dan mistikus, kita bisa juga berkomunikasi dengan orang lain via mimpi)).

A: Jika pada satu titik waktu tertentu, semua laki-laki di muka bumi ini sudah menemukan jodohnya. Yang tersisa adalah orang yang kau benci sampai ke ubun-ubun itu (yang menurut penilaianmu, dia itu berpenampilan jadul lah, tidak gaul lah, tidak macho lah, tidak gentle lah, tidak empatik, tidak kreatif lah, tidak humoris lah, mbosenin lah dan seabrek "lah-lah" lainnya). Apa dirimu masih tidak mau juga untuk nikah dengan dia?
B: (sambil bersungut-sungut) kamu doakan yang jelek padaku ya. Tega nian.
A: sabar. Itu hanya pengandaian (bukan „andai-andai lumut“).
B: (menjawab secara reaktif, mungkin karena terlalu sering mengkonsumsi mie instant dan bacaan instant) mengandaikan itu kerjaannya setan! Itu kesesatan berpikir! (sebenarnya si A agak terharu juga melihat si B yang reaktif, dikit-dikit kerjaannya setan, bisikan setan. setan senantiasa dijadikan kambing hitam, tanpa mau berusaha introspeksi diri. si A berdoa semoga semuanya, tanpa kecuali, tertuntun ke arah kebaikan).

A: (hanya tertawa) kek kek kek. Secara logika, kita boleh mengandaikan.
B: Kalau gitu, saya mau nikah dengan pria beristeri yang isterinya mau meninggal (sssst...dia dah lupa dengan klaim heroik dan meletup-letupnya tadi bahwa "mengandaikan adalah kerjaannya setan").
A: (tertawa lagi) kek kek kek (belum nemu cara ketawa lain yang lebih bagus, makanya cuma kek kek kek, mungkin kebanyakan makan tokek. di sini dia batasi cuma tiga kali tertawanya, walau sebenarnya masih pingin tertawa, tapi ditahan aja, karena teringat pada petuah sahabat tercinta yang selalu ia dengarkan dengan penuh empatik, "alle gute dinge sind drei". Sengaja dia tidak tertawa pakai formula "ha ha ha" karena malu kalau ditertawain kucing karena terkesan standar banget, kurang kreatif. Dia juga merasa bahwa tertawa pakai formula "kuk kuk kuk" kedengaran kurang bagus dan kurang macho. Mau tertawa "kak kak kak" nanti dikira "blekok"atawa ayam mau kawin. "Kok kok kok", takut dikira ayam mau bertelur. "Kik kik kik", malu dikira tikus kena asma. capek deh. yang baca aja capek, apalagi yang nulis).
B: (dengan sewot) mengapa kamu cuma tertawa? ada apa gerangan?

A: Dari satu sisi kamu egois, dan ada terbersit di benakmu harapan yang kurang baik akan orang lain.
B: (menjawab dengan ketus) EGP.
A: Lalu mau dikemanakan bujangan yang bernasib kurang mujur tadi?
B: (dengan ketus) bukan urusan saya, mau ke laut kek, mau nyebur ke sungai kek, mau ke mana kek. Ngapain saya pikirin.
A: Dari satu sisi, kamu kurang adil. Kamu sudah mengambil pilihan yang kurang empatik.
B: (dengan sok tahu) EGP. Oya saya ada ide (dengan wajah berbinar-binar. kalau di film kartun atawa di komik mungkin muncul tanda tuing-tuing atau gambar lampu bolam), suruh aja bujangan itu untuk minta orang yang beristri lebih dari satu agar mau memberikan salah satu isterinya.

A: Kamu sudah ada sedikit kemajuan. Tapi coba dipikirkan. Jarang sekali orang yang mau menghibahkan isterinya pada orang lain. Dalam sejarah, adalah kaum Anshar yang sampai rela menghibahkan salah satu istri mereka untuk kaum Muhajirin. Tapi ada baiknya juga, kamu dah berpikir positif pada orang lain, bahwa ada yang sangat ikhlas seperti halnya para sahabat Nabi tersebut. Itu salah satu yang bisa dijadikan alternatif. Tapi ada juga alternatif lain.
B: (dengan menggeser tempat duduknya, karena ngebet ingin tahu, seperti halnya wartawan infotainment yang ngebet dapat berita heboh) apa itu?
A: Kita doakan saja semoga muncul pasangan hidup untukmu dan semoga juga bujangan tersebut dikaruniai jodoh. Kita harus sadar bahwa Tuhan itu mengatasi logika, tidak tunduk pada hukum logika (beyond the logic). Selalu saja, ada pengecualian dan keajaiban. Lagian itu cuma pengandaian, ngapain kamu pikirin terlalu serius sampai bersungut-sungut tadi, padahal kamu bukan jangkrik (makhluk yang juga dirahmati Allah itu). Pengandaian itu „ada“ dalam angan-angan, namun tidak mesti „ada“ dalam kenyataan.
B: Apa maksudnya "ada" dalam angan-angan?

A: Sabar coy! nanti inshaallah saya terangkan dalam kesempatan lain. kamu masih terkesan terlalu gegabah dan terburu-buru dalam memahami dan memaknai realitas. (Dalam dunia sufi, dikisahkan ada seorang murid yang disarankan gurunya untuk menjadi pengemis lagi tiga tahun, karena dilihatnya sang murid ini masih tinggi egonya, sok tahu, dan di dalam hatinya masih terbersit rasa bahwa "saya lebih saleh dan lebih bersih dari makhluk lain". Namun karena cerita ini tidak terjadi di dunia tasawuf, dan hubungan dua anak manusia tadi bukanlah relasi guru-murid, maka dengan menyesal sedalam-dalamnya ceritanya di buat seperti ini saja. Harap diketahui bahwa si B tidak bayar SPP, dan si B juga tidak baiat pada si A, maka si B bukanlah murid si A).

(Sekedar bocoran cerita mendatang, si B ini akhirnya secara tak terduga menyatakan siap menikah dengan bujangan tadi (ini agak buram dan diburamkan, karena pengaruh bacaan instant, atawa karena ketulusan hati, atawa si B dah melakukan perenungan lain di luar jalur yang lazim, cuma si B dan penulis sendiri yang paham. pembaca mohon jangan protes, kalau ada yang dirahasiakan (mau tahu aja ini pembaca, layaknya wartawan infotainment -)). Selang beberapa waktu, mereka berdua pun menikah. Mungkin karena ketulusan hati si B, akhirnya si "mantan bujangan kurang beruntung" itu pun berubah seperti yang diidamkan semula oleh si B. Padahal si B sudah lupa akan kriteria suami idamannya. Begitu juga si "mantan bujangan kurang beruntung" itu pun menerima si B dengan tulus, sehingga lambat laun si B berubah menjadi wanita yang diidamkannya. Sekedar catatan, bahwa si "mantan bujangan" ini sekalipun dulu mendapat hadiah segudang atribut jelek, namun tetap bermimpi mendapat isteri yang nyaris sempurna. Ini mungkin karena kurang sering ngaca, terlalu pede, atawa terlalu optimis akan anugerah Tuhan yang tak terduga. Melihat happy ending pasangan ini, si A pun tak kuasa menahan rasa harunya hingga menitikkan air matanya).

("Ceritanya tidak seru!" "Penulisnya tidak kreatif!" "Ending-nya niru cerita joko kendil!", begitu protes sebagian pembaca. Melihat penulisnya diprotes para pembaca, si A, si B dan "mantan bujangan" pun tertawa kek kek kek (tertawanya seragam karena dipandu oleh si A). "Syukurin, emang enak dikerjain. Tadi kamu ngerjain kita kita", begitu ujar mereka).