Thursday 2 April 2009

"Ada Apa dengan Sarung yang Dipenuhi Rahmat Itu"

by: Asfa Widiyanto

Melihat keterpanaan sementara teman terhadap sarung yang dipakai makhluk yang inshaallah dirahmati Allah,
saya teringat pada kategori sosial semacam "abangan" dan "santri" yang menarik perhatian antropolog semacam Robert Jay, Clifford Geertz dan sebangsanya.

Jika kita perhatikan, sarung, kerudung dan sebangsanya sering dipakai kaum santri. Maka kaum santri terutama yang tradisionalis sering diberi label "kaum sarungan". Jika kita amati secara selayang pandang, banyak dari santri di pondok pesantren ngefans banget dengan pakaian unik ini. Ada juga sementara orang yang suka dengan pakaian ini karena kepraktisannya, so tidak perlu lagi pakaian bawah lagi, kilah mereka. Kata sementara pakar kesehatan, cara berpakaian seperti itu adalah relatif sehat, di satu sisi, walau mungkin relatif kurang "menyehatkan" bagi yang melihatnya, di sisi lain. Ada juga sementara orang, yang mengidentifikasikan sarung dengan sunatan karena itunya, maksudnya, karena itu sarung sangat nyaman dipakai orang yang sunatan. Di beberapa daerah, sarung acap kali dipakai orang menjelang dan setelah menunaikan ibadah kepada istrinya.

Di sudut lain, blangkon dan "kemben" sering diidentifikasikan dengan kaum "abangan". Di beberapa daerah, malah ada kelompok islam "sinkretis" yang dijuluki "islam blangkon".

Dari sini bisa kita lihat bahwa pakaian sering dikait-kaitkan dengan simbol. (Ilmuwan sosial dan humaniora sering mencermati "symbol" dan "what beyond the simbol", atau kata pakar semiotika, "sign" dan "signified"). Dan pesan di balik simbol itu kadang cair (fluid). Pengamat dan aktivis politis mungkin lebih memperhatikan pesan dan implikasi apa yang hendak disampaikan seseorang dengan pakaiannya. Dalam beberapa kasus, simbol seringkali jadi isu sensitif dan juga sering diperebutkan dan jadi bahan pertikaian.

Ada sementara orang berfatwa, bahwa salah satu kerjaan ilmuwan sosial dan humaniora adalah membuat permasalahan yang rumit menjadi relatif sederhana, dan sebaliknya, menyulap persoalan yang kelihatannya sederhana menjadi relatif rumit. Cara berpikir ilmuwan sosial dan humaniora, ada yang mengibaratkan, seperti orang naik sepeda, kadang ngebut, ngerem, ngepot, jumping, naik trotoar, balapan dengan bis, jalan sangat lambat sampai nyaris seperti diam dan sebangsanya (tapi ada juga makhluk, yang kalau menyepeda sering kagetan dan terkenyut, terutama ketika melihat sesuatu yang mengezutkan seperti makhluk mempesona dan anjing (entah apa analogi dan benang merah antara anjing dan makhluk cakep), sampai sampai ada bunga di tepi jalan yang terpesona, tergoda dan tergerak untuk menirukan gerakannya di belakangnya).

2 comments:

  1. makasih pada anni,pak rahmat,ike,mbak nani,mas kholis,den baguse mufid, kang tolib, pak bram dan sebangsanya yang menginspirasikan tulisan ini. danke juga pada ike yang telah menyarankan utk memakai blogspot.

    ReplyDelete
  2. makasih buat mbakyu emi yang telah menanyakan maksud "sarung yang dipenuhi rahmat", yang akhirnya memaksa saya untuk memberikan contoh kalimat lain, yang relatif lebih muda dipahami, yakni:
    "sarung keren yang memantulkan rahmat Allah, yang kebetulan dipakai seonggok makhluk yang semoga senantiasa dirahmati-Nya, yang digunakan makhluk tersebut untuk salto di atas salju yang merumput yang juga dirahmati-Nya, atau dengan kata lain turut merepresentasikan sebagai salah satu pengejawantahan, manifestasi rahmat-Nya".

    ReplyDelete